Email This Post Email This Post
08
Mar

Perkenalan Dengan Audit

Sering kali saat kita mendengar kata “audit”, rasa antipatilah yang keluar. Kita langsung merasa tidak nyaman, karena kita mempunyai pandangan bawa para “polisi keuangan” akan datang untuk merepotkan kita dengan permintaan data, keterangan dan sebagainya. Banyak orang bertanya apakah jasa auditor sebenarnya diperlukan. Jawabannya adalah “Ya”. Cara paling mudah untuk memberi justifikasi adalah melihat terlebih dahulu apakah definisi dari laporan keuangan dan siapakah para pengguna laporan keuangan.

Menurut PSAK 1 (yakni “kitab suci para akuntan”), laporan keuangan adalah “suatu penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja suatu entitas”. Tujuan dari laporan keuangan menurut PSAK 1 adalah “memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan keuangan dalam pembuatan keputusan ekonomi”.  Bilamana disingkat dalam bahasa awam, laporan keuangan mencerminkan transaksi-transaksi perusahaan.

Siapakah pengguna laporan keuangan? Banyak sekali. Berikut adalah beberapa pengguna laporan keuangan dan manfaat laporan keuangan bagi mereka:

  1. Pemilik perusahaan: Sang pemilik bisa menilai bagaimana kinerja perusahaannya. Apakah modal yang disetor dipergunakan dengan tepat? Apakah penjualan perusahaan sesuai yang diharapkan? Apakah saldo uangnya cukup? Apakah terjadi inefisiensi?
  2. Investor: Investor dapat menilai apakah sebuah perusahaan “sehat” kondisi keuangannya sehingga meletakkan modal di dalamnya akan memberikut keuntungan di masa depan. Bilamana ia menaruh investasi sebanyak XYZ, berapakah ekspektasi return yang bisa didapatkan dalam kurun waktu 5 tahun? Berbagai macam analisis dapat dilakukan oleh para investor (atau financial analyst yang ia sewa) terhadap kondisi sebuah perusahaan sebelum ia memutuskan untuk menanamkan modal.
  3. Bank/Kreditor: Sebelum sebuah bank memberikan pinjaman kepada sebuah perusahaan, ia pasti akan meminta laporan keuangan. Bank akan melakukan analisis apakah arus kas dari perusahaan tersebut adalah sehat? Bagaimana liquidity ratio perusahaan ini? Bisakah ia menagih semua piutang-piutangnya dari para klien untuk membayar hutang terhadap bank/kreditor tepat waktu, dan sebagainya.

Dari beberapa contoh di atas, ada suatu kesamaan yang diinginkan oleh mereka semua, yakni mereka menginginkan laporan keuangan yang apa adanya, tidak dipoles, dan tidak mengandung kesalahan material. Yang ingin dihindari adalah pengguna mengatakan “Andai saja laporan keuangan ini mengemukakan informasi ini, pasti keputusan yang saya ambil akan berbeda”. Dengan kata lain, mereka menginginkan laporan keuangan yang telah diaudit dengan asumsi auditor telah menangkap segala kesalahan-kesalahan yang ada (jika memang ada). Dalam kalimat sederhana, auditor bertugas untuk menilai bahwa laporan keungan telah disusun dengan baik dan benar sesuai dengan Standar Akuntansi yang berlaku di Indonesia. Dengan demikian, laporan keuangan tersebut tidak dipoles, tidak dibuat seolah-olah bagus guna menyenangkan penggunanya. Dengan demikian, auditor harus bersifat independen. Dia tidak memiliki kepentingan apapun dari perusahaan itu (kliennya) yang bisa membuatnya memihak terhadap klien.

Auditor melakukan banyak sekali pengecekan terhadap data dan pernyataan-pernyataan yang diberikan perusahaan (klien yang menyewa mereka). Mereka menginginkan bukti-bukti valid untuk mendukung data keuangan dan pernyataan-pernyataan yang telah diberikan. Metode yang dilakukan auditor berbeda-beda. Tidak semua prosedur audit akan selalu sama antara auditor dari Kantor Akuntan A dan B. Namun tujuannya adalah sama. Secara singkat yang dilakukan auditor adalah:

  1. Pengecekan terhadap internal control (pengendalian internal) perusahaan
  2. Substantive testing (prosedur audit substantif)

Berikut adalah penjelasan singkat dari kedua perihal di atas.

  1. Prosedur pengecekan internal control adalah memastikan bahwa alur transaksi dalam perusahaan dibuat sedemikian rupa sehingga perihal yang bersifat penggelapan dapat dihindari dan dideteksi. Alur transaksi di sini dapat menyangkut sumber daya manusia dan teknologi. Semakin bagus sebuah “design” internal control, semakin sedikit kemungkinan terjadinya penggelapan (fraudulent act) terhadap asset. Auditor akan bertanya bagaimana design yang dibuat dalam perusahaan. Kemudian mereka akan melakukan pengecekan apakah design tersebut memang diimplementasikan. Pernahkah anda melihat auditor anda meminta puluhan sample invoice atau dokumen, kemudian bertanya “Mengapa dokumen ini tidak ditanda tangani? Bukankah seharusnya dicek dan ditanda tangani oleh si A?”. Alur-alur yang lazimnya dicek internal control-nya adalah alur penjualan (mulai dari penerimaan order, pengiriman barang/pemberian jasa, penagihan, hingga penerimaan uang dari pelanggan) atau alur pembelian (mulai dari pengiriman order ke vendor, penerimaan barang, penerimaan tagihan hingga pembayaran tagihan). Alur pengeluaran dan penerimaan uang seringkali ditest karena itulah asset yang paling liquid dan mudah untuk digelapkan. Semakin bagus hasil pengecekan internal control yang dilakukan auditor, maka semakin sedikit prosedur substantif yang dilakukan untuk akun-akun tersebut.
  2. Prosedur substantif dilakukan terhadap akun-akun yang dianggap material oleh auditor. Dengan demikian bukan hanya saja pada alur-alur yang disebutkan di point a, tapi juga untuk akun seperti aktiva tetap (perangkat mesin, bangunan dan sebagainya). Prosedur substantif bukan selalu berarti auditor sekedar melihat dokumen hardcopy, tetapi auditor melakukan perhitungan penyusutan, amortisasi, beban bunga terhadap pinjaman, analisis trend dan sebagainya.

Bilamana dalam pelaksanaan audit ditemukan kesalahan yang signifikan, auditor akan meminta klien melakukan pembetulan dalam laporan keuangannya. Tentunya auditor tidak bisa memaksa, namun bilamana tidak dilakukan pembetulan, maka temuan tersebut akan disebutkan di dalam laporan audit. Itu bisa mempengaruhi pendapat dari pengguna laporan keuangan terhadap kondisi keuangan si perusahaan.

Jadi pada intinya, auditor melakukan prosedur-prosedur audit agar laporan keuangan mencerminkan informasi apa adanya. Dengan demikian laporan keuangan bisa digunakan sebagai tolak ukur dalam pengambilan keputusan yang tepat oleh para penggunanya.




Email This Post Email This Post 473 1



3 Responses to “Perkenalan Dengan Audit”

  1. 1
    Pengaruh Kegiatan Akuntansi terhadap Perhitungan Pajak Penghasilan Badan Says:

    […] Perkenalan Dengan Audit […]

  2. 2
    Tiga Tahap Utama dalam Audit Says:

    […] Perkenalan Dengan Audit […]

  3. 3
    Analisis Terhadap Pendapatan (Revenue) Says:

    […] Perkenalan Dengan Audit […]

Leave a Reply

© 2008 Software Payroll, Pajak, PPh 21, PPN, Akuntansi