Email This Post Email This Post
28
May

Analytical Procedures Dalam Audit

Dalam artikel Perkenalan dengan Audit, dikatakan bahwa ada beberapa prosedur audit yang dikenal dengan istilah “substantives procedures”. Secara mudah, bisa dikatakan bahwa substantive procedures adalah serangkaian testing yang dilakukan yang tidak melibatkan pengujian terhadap pengendalian internal. Di dalam tulisan ini akan dibahas mengenai analytical procedures sebagai bagian dari substantive procedures. Perlu diketahui adalah apabila auditor ingin melakukan analytical procedures yang berkualitas, dia harus menguasai industri dan bisnis klien secara luar dalam. Tidak jarang seorang auditor ditugaskan untuk mengaudit klien-klien yang berada dalam industri yang sama (terlepas dari skala perusahaan), sehingga ia mempunyai keahlian industri spesifik . Misalkan auditor bank A akan sering ditugaskan untuk memegang klien yang berupa bank juga, terutama bilamana auditor tersebut sudah menduduki level yang cukup tinggi. Jarang terjadi seorang audit manager yang memegang klien manufaktur makanan akan diberikan tugas menjadi audit manager sebuah financial institution, tanpa adanya pengalaman terlebih dahulu.

Bilamana di-breakdown lebih lanjut, analytical procedures dapat dikelompokkan menjadi yang berikut.

  1. Perbandingan angka tahun berjalan dengan tahun sebelumnya: Analisis ini dikenal juga dengan isitilah analisis horizontal. Ini bisa dilakukan baik untuk angka Balance Sheet maupun Profit and Loss Statement. Perlu diingat bilamana sedang dilakukan interim audit procedures untuk akun di Profit and Loss Statement (misalkan Oktober 20X5, 10 bulan) dengan tahun lalu (Desember 20X4, 12 bulan), kita harus meng-extrapolate Oktober 20X5 menjadi 12 bulan. Barulah layak untuk dilakukannya analisis. Berikut adalah contoh simpel analisis horizontal. Auditor melakukan “fluctuation analysis” tahun 20X5 dan 20X4 untuk sebuah perusahaan minyak, dan terlihat bahwa revenue melejit naik sebesar 40% di tahun 20X5. Apakah masuk akal kenaikan tersebut? Kita bisa langsung bertanya kepada klien untuk mencari jawabannya. Namun penting diketahui bahwa kita sebagai auditor harus memiliki sebuah ekspektasi. Apakah wajar perusahaan minyak memiliki revenue yang melejit di kala industri perminyakan secara global sedang mengalami penurunan secara drastis?
  2. Perbandingan angka tahun berjalan dengan angka budget, angka proyeksi atau trend analysis: Analisis ini dikenal dengan istilah analisis vertikal. Contoh dari analisis ini adalah dengan membandingkan angka Accounts Receivable (piutang) tahun 20X4 dan 20X5. Mengapa terdapat angka piutang yang tinggi? Apakah ini wajar? Ini wajar dipertanyakan bilamana trend dari perusahaan adalah memiliki saldo piutang yang minimum di akhir tahun karena AR collection merupakan salah satu elemen penilaian (Key Performance Indicator) bagi perusahaan. Jadi merupakan suatu hal yang tidak lazim bilamana piutang melejit naik di akhir tahun.
  3. Hubungan antara saldo dari akun yang satu dengan yang lainnya: Terkadang bisa ditarik sebuah ekspektasi bilamana kita mengetahui bisnis klien dan industri klien dengan baik. Misalkan: Klien mengatakan bahwa revenue 20X5 naik dibandingkan dengan tahun 20X4, terutama di bulan November dan Desember 20X5. Namun apakah saldo dari piutang juga naik? Ekspektasi auditor adalah saldo piutang naik karena klien mempunyai term of credit sebesar 90 hari. Dengan demikian, revenue yang diakui di bulan November dan Desember 2014 belum diterima pelunasannya. Bilamana saldo piutang rendah, perlu dicek apakah ada extra ordinary case di mana perusahaan memang lebih gencar melakukan penagihan? Jika ya, auditor akan memeriksa apakah saldo uang di bank memang meningkat? Bila tidak, apakah klien menggunakan dananya untuk melakukan investasi (misalkan pembelian fixed assets secara besar-besaran)? Banyak kemungkinan yang bisa terjadi di sini. Tidak bisa dipastikan bahwa ekspektasi dari auditor adalah selalu benar. Tugas auditor adalah menilai apakah keterangan yang diberikan oleh klien memang reasonable dan dapat dibuktikan melalui angka yang ada dalam laporan keuangannya.
  4. Analisis Rasio Keuangan: Analisis ini bisa membantu poin 1-3 di atas. Contoh: Bilamana dikatakan bahwa di tahun 20X5 klien lebih gencar melakukan AR collections, maka auditor bisa melakukan Accounts Receivables Turnover Analysis. Kiranya hasil kalkulasi itu mendukung pernyataan dari klien. Bilamana tidak, perlu diinvestigasi lebih lanjut.
  5. Reasonableness Test: Prosedur ini terkait dengan point 3, namun pada tahap ini ekspektasi auditor lebih didukung dengan kalkulasi yang konkrit. Contoh: Dengan mengetahui semua daftar fixed assets (beserta acquisition cost, acquisition date, useful life, depreciation method dan lain-lain), seorang auditor bisa melakukan kalkulasi ulang untuk beban penyusutan fixed assets. Dengan demikian, auditor membandingkan ekspektasi penyusutannya dengan beban penyusutuan dan net book value fixed assets yang terdapat di dalam laporan keuangan. Perihal yang sama bisa dilakukan untuk beban bunga pinjaman dari bank. Bilamana auditor mengetahui daftar pinjaman (angka principal pinjaman, tingkat bunga, periode pinjaman dan lain-lain), ia bisa menghitung total beban bunga pinjaman. Hasil kalkulasinya dibandingkan dengan angka interest expenses yang terdapat di profit and loss statement.

Demikianlah beberapa contoh dari analytical procedures. Tentunya analisis di atas tidak hanya bisa dilakukan oleh auditor. Pada dasarnya semua itu bisa dilakukan oleh bagian finance and accounting (umumnya oleh financial controller). Namun yang perlu ditekankan lagi adalah untuk melakukan ini diperlukan pengetahuan yang mendalam mengenai industri dan bisnis perusahaan. Hasil analisis inipun tidak hanya berguna bagi auditor namun juga oleh bagian internal (misalkan direktur keuangan).




Email This Post Email This Post 473 1



Leave a Reply

© 2008 Software Payroll, Pajak, PPh 21, PPN, Akuntansi