DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK
INDONESIA
NOMOR 486/KMK.03/2003
TENTANG
PAJAK PENGHASILAN YANG DITANGGUNG OLEH
PEMERINTAH
ATAS PENGHASILAN PEKERJA DARI PEKERJAAN
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang:
Bahwa dalam rangka pelaksanaan Pasal 3
Peraturan Pemerintah No. 47 Tahun 2003 tentang
Pajak Penghasilan yang ditanggung oleh Pemerintah atas Penghasilan
Pekerja dari Pekerjaan, perlu menetapkan Keputusan Menteri Keuangan tentang
Pajak Penghasilan yang Ditanggung oleh Pemerintah atas Penghasilan Pekerja dari
Pekerjaan;
Mengingat:
1.
Undang-undang No.6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara
Perpajakan (LN RI Tahun 1983 No. 49, TLN RI No. 3262) sebagaimana telah
beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-undang No.16
Tahun 2000 (LN RI Tahun 2000 No. 126, TLN RI No.3984);
2.
Undang-undang No.7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (LN RI Tahun 1983 No. 50, TLN RI No.
3263) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-undang No.17 Tahun 2000 (LN
RI Tahun 2000 No. 127, TLN RI No. 3985);
3.
Peraturan
Pemerintah No. 47 Tahun 2003 tentang Pajak
Penghasilan yang Ditanggung Pemerintah atas Penghasilan Pekerja dari Pekerjaan
(LN RI Tahun 2003 No. 106, TLN RI No. 4323);
4.
Keputusan
Presiden Nomor 228/M Tahun 2001;
5.
Keputusan
Menteri Keuangan Nomor 447/KMK.03/2002 tentang
Bagian Penghasilan Sehubungan dengan Pekerjaan dari Pegawai Harian dan Mingguan
serta Pegawai Tidak Tetap Lainnya yang Tidak Dikenakan Pemotongan Pajak
Penghasilan;
M E M U T U S K A N :
Menetapkan:
KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN TENTANG PAJAK PENGHASILAN YANG DITANGGUNG
OLEH PEMERINTAH ATAS PENGHASILAN PEKERJA DARI PEKERJAAN.
Pasal 1
(1)
Pekerja yang
mendapat perlakuan Pajak Penghasilan yang ditanggung oleh Pemerintah adalah Wajib Pajak orang, pribadi dalam negeri yang
bekerja sebagai pegawai tetap atau pegawai tidak tetap pada satu pemberi kerja
di Indonesia, yang menerima gaji, upah, serta imbalan lainnya dari pekerjaan
yang diberikan dalam bentuk uang sampai dengan Rp 2.000.000,00 (dua juta
rupiah) sebulan.
(2)
Pajak
Penghasilan yang terutang atas gaji, upah, serta imbalan lainnya dari pekerjaan
yang diterima oleh Pekerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sampai dengan Rp
1.000.000,00 (satu juta rupiah) sebulan ditanggung oleh Pemerintah.
(3)
Pajak
Penghasilah Pasal 21 yang Ditanggung oleh Pemerintah sebegaimana dimaksud dalam
ayat (2), dihitung secara bulanan dan tidak disetahunkan.
Pasal 2
(1)
Pajak
Penghasilan Pasal 21 yang terutang oleh Pekerja yang berstatus sebagai pegawai
tetap atas penghasilan dari pekerjaan adalah sebesar jumlah penghasilan kena
pajak yang dihitung berdasarkan ketentuan Pasal 21 ayat (3) dikalikan tarif
Pasal 17 ayat (1) Undang-undang Pajak Penghasilan yang berlaku.
(2)
Pajak
Penghasilan Pasal 21 yang terutang oleh Pekerja yang berstatus sebagai pegawai
harian, mingguan, serta pegawai tidak tetap Iainnya atas penghasilan dan
pekerjaan adalah sebesar jumlah penghasilan kena pajak yang dihitung
berdasarkan ketentuan Pasal 21 ayat (4) dikalikan tarif Pasal 17 ayat (1)
Undang‑undang Pajak Penghasilan yang berlaku.
(3)
Pajak
Penghasilan yang ditanggung oleh Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1
ayat (2) adalah sebesar Pajak Penghasilan Pasal 21 yang terutang oleh Pekerja
sesuai ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) atau ayat (2) atas jumlah
penghasilan bruto dari pekerjaan sebulan sampai dengan Rp 1.000.000,00 (satu
juta rupiah).
(4)
Pajak
Penghasilan Pasal 21 yang harus dipotong oleh Pemberi Kerja atas penghasilan
Pekerja dari pekerjaan adalah sebesar Pajak Penghasilan Pasal 21 yang terutanq
sesuai ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) atau ayat (2) dikurangi
dengan Pajak Penghasilan yang ditanggung oleh Pemerintah sesuai ketentuan
sebagaimana tersebut dalam ayat (3).
Pasal 3
Pajak Penghasilan yang terutang oleh
Pekerja, yang ditanggung oleh Pemerintah, dan yang harus dipotong oleh Pemberi
Kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, wajjb dilaporkan baik dalam SPT
Tahunan Pajak.Penghasilan Pekerja dari atau dalam SPT Tahunan Pajak Penghasilan Pasal 21 Pemberi Kerja
sesuai Ketentuan umum yang berlaku.
Pasal 4
Pada saat Keputusan Menteri Keuangan ini mulai berlaku, Keputusan Menteri Keuangan Nomor 70/KMK.03/2003 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan yang Diterima oleh Pekerja sampai dengan Sebesar Upah Minimum Propinsi atau Upah Minimum Kabupaten/Kota dinyatakan tidak berlaku.
Pasal 5
Pemotong Pajak Penghasilan yang terlanjur menerapkan peritungan Pajak Penghasilan Pasal 21 berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 70/KMK.03/2003 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan yang Diterima oleh Pekerja sampai dengan Sebesar Upah Minimum Propinsi atau Upah Minimum Kabupaten/Kota terhitung sejak tanggal 1 Juli 2003 sampai dengan ditetapkannya Keputuson Menteri Keuangan ini, dapat melakukan pembetulan SPT Masa Pajak Penghasilan Pasal 21 atau melakukan penyesuaian perhitungan pada saat membuat SPT Tahunan Pajak Penghasilan Pasal 21 dengan melakukan perhitungan kembali Pajak Penghasilan Pasal 21 terutang setelah Tahun Takwim berakhir sesuai dengan ketentuan perundang‑undangan perpajakan yang berlaku.
Pasal 16
Ketentuan yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan Keputusan Menteri Keuangan ini diatur dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak.
Pasal 7
Keputusan Menteri Ketiangan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan dan mempunyai daya Iaku surut terhitung sejak tanggal 1 Juli 2003.
Agar setiap orang mengetahuinya,
memerintahkan pengumuman Keputusan Menteri Keuangan ini dengan penempatannya
dalam Berita Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
Pada tagggal 30 Oktober 2003
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
B O E D I O N O
L A M
P I R A N
CONTOH CARA PENGHITUNGAN PAJAK PENGHASILAN
ATAS PENGHASILAN DARI PEKERJAAN YANG
TERUTANG
OLEHI PEKERJA, YANG DITANGGUNG OLEH
PEMERINTAH DAN
YANG HARUS DIPOTONG OLEH PEMBERI KERJA
1. Saefudin adalah pegawai tetap di PT Insan Selalu Lestari, la memperoleh gaji beserta tunjangan berupa uang sebulan sebesar Rp 1.400.000,00 dan membayar iuran pensiun sebesar.Rp 25.000,00 sebulan. Saefudin menikah tetapi belum mempunyai anak (status K/O).
|
a. |
Penghitungan PPh Pasal 21 terutang: |
||||
|
|
Gaji dan tunjangan sebulan |
|
|
Rp 1.400.000,00 |
|
|
|
Pengurangan: |
|
|
|
|
|
|
Biaya jabatan |
|
|
|
|
|
|
(5% X Rp1.400.000,00) |
|
Rp 70.000,00 |
|
|
|
|
luran Pensiun |
|
Rp 25.000,00 |
|
|
|
|
|
|
|
Rp 95.000,00 |
|
|
|
|
|
|
----------------------- |
|
|
|
Penghasilan Neto sebulan |
|
|
Rp 1.305.000,00 |
|
|
|
Penghasilan neto setahun 12 x
Rp1.305.000,00 |
|
Rp15.660.000,00 |
||
|
|
PKP setahun : |
|
|
|
|
|
|
- untuk WP sendiri |
|
Rp2.880.000,00 |
|
|
|
|
- tambahan WP kawin |
|
Rp1.440.000,00 |
|
|
|
|
|
|
|
Rp 4.320.000,00 |
|
|
|
|
|
|
----------------------- |
|
|
|
Penghasilan Kena Pajak setahun |
|
|
Rp11.340.000,00 |
|
|
|
PPh Pasal 21 terutang setahun: |
|
|
|
|
|
|
5% x Rp.11.340.000,00 |
|
|
Rp 567.000,00 |
|
|
|
PPh Pasal 21 terutang sebulan |
|
|
Rp 47.250,00 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
b. |
Penghitungan PPh Pasal 21 ditanggung oleh pemerintah: |
|
|
||
|
|
Penghasilan sebulan ditanggung
oleh Pemerintah |
Rp 1.000.000,00 |
|||
|
|
Pengurangan: |
|
|
|
|
|
|
Binya jabatan |
|
|
|
|
|
|
(5% x Rp1.000.000,00) |
|
Rp 50.000,00 |
|
|
|
|
Iuran Pensiun |
|
Rp 25.000,00 |
|
|
|
|
|
|
|
Rp 75.000,00 |
|
|
|
|
|
|
----------------------- |
|
|
|
Penghasilan Neto sebulan |
|
|
Rp 925.000,00 |
|
|
|
PTKP sebulan : |
|
|
||
|
|
- untuk WP sendiri |
|
Rp 240.000,00 |
|
|
|
|
- tambahan WP kawin |
|
Rp 120.000,00 |
|
|
|
|
|
|
|
Rp 360.000,00 |
|
|
|
|
|
|
----------------------- |
|
|
|
Penghasilah Neto sebulan; |
|
|
Rp 565.000,00 |
|
|
|
PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah
sebulan: |
|
|
||
|
|
5% x Rp565.000,00 |
|
|
Rp 28.250,00 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
c. |
PPh Pasal 21 yang harus dipotong oleh
Pemberi Kerja |
|
|
||
|
|
Rp47.250,00 ‑ Rp28.250 = Rp19.000,00 |
|
|
|
|
|
|
|
========= |
|
|
|
2.
Mariko Hutadjulu
adalah pegawai tetap di PT Tiurmas Lampung Indah.
la memperoleh gaji bulan Desember sebesar Rp 1.200.000,00, menerima THR sebesar Rp 600,000,00 dan membayar iuran pensiun sebesar Rp 25.000,00 sebulan. Mariko Hutadjulu menikah tetapi belum mempunyai anak (status K/O).
|
a. |
Penghitungan PPh Pasal 21 terutang: |
|||
|
|
1) PPh atas Gaji dan THR |
|
|
|
|
|
Gaji setahun (12 X
Rp1.200.000,00) |
|
|
Rp 14.400.000,00 |
|
|
THR |
|
|
Rp 600.000,00 |
|
|
|
|
|
---------------------- |
|
|
Total Penghasilan setahun |
|
|
Rp15.000.000,00 |
|
|
Pengurangan: |
|
|
|
|
|
Biaya Jabatan |
|
|
|
|
|
(5% x Rp15.000.000,00) |
|
Rp 750.000,00 |
|
|
|
Iuran Pensiun |
|
|
|
|
|
(12 x Rp25.000,00) |
|
Rp 300.000,00 |
|
|
|
|
|
|
Rp 1.050.000,00 |
|
|
|
|
|
---------------------- |
|
|
Penghasilan Neto |
|
|
Rp13.950.000,00 |
|
|
|
|
|
|
|
|
PTKP setahun: |
|
|
|
|
|
- untuk WP sendiri |
|
Rp2.880.000,00 |
|
|
|
- tambahan WP kawin |
|
Rp1.440.000,00 |
|
|
|
|
|
|
Rp 4.320.000,00 |
|
|
|
|
|
----------------------- |
|
|
Penghasilan Kena Pajak
setahun |
|
Rp 9.630.000,00 |
|
|
|
PPh Pasal 21 terutang
setahun |
|
||
|
|
5% x Rp9.630.000,00 |
|
|
Rp 481.500,00 |
|
|
PPh terutang sebulan atas |
|
|
|
|
|
Gaji dan THR |
|
|
Rp 40.125,00 |
|
|
|
|
|
|
|
|
2) PPh Pasal 21 atas Gaji |
|
|
|
|
|
Gaji |
|
|
|
|
|
Pengurangan: |
|
|
|
|
|
Biaya Jabatan |
|
|
|
|
|
(5% x Rp1.200.000,00) |
|
Rp 60.000,00 |
|
|
|
Iuran Pensiun |
|
Rp 25.000,00 |
|
|
|
|
|
|
Rp 85.000,00 |
|
|
|
|
|
----------------------- |
|
|
Penghasilah Neto sebulan |
|
|
Rp 1.115.000,00 |
|
|
Penghasilan Neto setahun |
|
|
|
|
|
||||